Selamat menunaikan ibadah Puasa 1435 Hijriyah

Kami segenap pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Unsyiah periode 2014 mengucapkan "Selamat menunaikan ibadah Puasa 1435 Hijriyah"

Satu Suara Untuk Perubahan

Aksi teatrikal Anti Golput oleh BEM Unsyiah untuk pemilu 9 April 2014 di Taman Sari Banda Aceh

Melompat Bersama

Suasana yang indah di Pantai Lampuuk dan pemandangan yang luar biasa

Yang Penting Eksis

Foto bersama Presidium dan Staf Kementerian Komunikasi dan Informasi BEM Unsyiah 2014 dalam acara Rapat Kerja pertama

Kenangan di Kebun Percobaan

Habis praktikum bersama mahasiswa Agroteknologi 02 2012

Lab Teknologi dan Industri Benih

Kebersamaan mahasiswa Agroteknologi 01 2012, semoga selalu kompak

Rekreasi Anak Kominfo

Menghilangkan penat dan bosan yang melanda anak Kominfo BEM Unsyiah di Lampuuk Beach

Jumat, 06 Juni 2014

Makalah PSDA SUMBER AIR POTENSIAL UNTUK PERTANIAN

Makalah Pengelolaan Sumber Daya Air

SUMBER AIR POTENSIAL
UNTUK PERTANIAN

DI SUSUN
OLEH :


Irham Maulana
1205101050031





PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH

2014


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Secara alami kebutuhan air untuk tanaman dapat dipenuhi dari air hujan. Namun dalam kenyataannya di beberapa tempat dan dalam waktu-waktu tertentu jumlah air hujan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman. Sedangkan infrastruktur, sarana prasarana irigasi masih merupakan permasalahan mendasar sektor pertanian. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi tidak optimal yang selanjutnya dapat mengganggu tingkat produktivitasnya.
Kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Tanah Air. Ratusan ribu hektare tanaman pangan, terutama padi di Aceh terancam. Luas lahan padi yang potensial gagal panen terus bertambah seiring dengan musim kemarau yang berubah pola. Perubahan iklim, para ahli mengaitkannya dengan gejala pemanasan global menyebabkan musim hujan dan kemarau di Indonesia bergeser. Musim kemarau yang biasanya terjadi pada periode April sampai Oktober, tahun ini baru dimulai pada Juli. Demikian juga dengan musim hujan yang bergeser dari November sampai Maret ke Februari hingga Juni. Total luas tanaman padi yang kekeringan selama Januari-Juli 2007 mencapai 268.518 hektare. 
1.2. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah agar mengetahui Sumber Air Potensial Untuk Pertanian. Selain itu untuk mengetahui dan mencari solusi dalam mengatasi permasalahan kekurangan air bagi pertanian lahan kering pada musim kemarau terutama daerah dengan curah hujan kecil dengan berbagai sistem irigasi.
1.3. Identifikasi Masalah
Dalam makalah ini penulis mengidentifikasikan masalah yang akan dibahas yaitu :
-          Sumber Air Potensial Untuk Pertanian?
-          Seberapa penting ketersediaan air bagi kehidupan khususnya sektor pertanian? 
-          Keadaan Indonesia saat ini, permasalahan daerah dengan curah hujan kecil, pertanian lahan kering di musim kemarau dan dampak perubahan iklim, bagaimana solusinya?
-          Beberapa sistem pengairan (irigasi), yang mampu menjadi solusi saat ini?























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Air adalah semua air yang terdapat di atas maupun di bawah permukaan tanah. Air dalam pengertian ini termasuk air permukaan, air tanah, air hujan dan air laut yang dimanfaatkan di darat. Sedangkan pengertian sumberdaya air adalah air dan semua potensi yang terdapat pada air, sumber air, termasuk sarana dan prasarana pengairan yang dapat dimanfaatkan, namun tidak termasuk kekayaan hewani yang ada di dalamnya. (Sunaryo,2004).
Air merupakan elemen yang paling melimpah di atas bumi, yang meliputi 70 persen permukaannya dan berjumlah kira-kira 1.4 ribu juta kilometer kubik. Namun hanya sebagian kecil saja dari jumlah ini yang benar-benar dimanfaatkan, yaitu kira-kira hanya 0,003 persen. Sebagian besar air, kira-kira 97 persen, ada dalam samudera, laut, dan kadar garamnya terlalu tinggi.
Menurut Sunaryo (2004) berbagai persoalan tentang sumberdaya air yang berkaitan dengan kuantitas dan kualitasnya menyadarkan semua pihak bahwa persoalan air perlu dilakukan dengan tindakan yang tepat sehingga menghasilkan solusi yang optimal. Diperlukan pengelolaan sumberdaya air terpadu, menyeluruh dan berwawasan lingkungan agar sumberdaya air dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Pengelolaan sumberdaya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumberdaya air, pendayagunaan sumberdaya air, dan pengendalian daya rusak air. Adapun visi dan misi pengelolaan sumberdaya air adalah mewujudkan kemanfaatan sumberdaya air bagi kesejahteraan seluruh rakyat dan konservasi sumberdaya air yang adil untuk berbagai kebutuhan masyarakat. Salah satu tujuan pengelolaan sumberdaya air adalah mendukung pembangunan regional dan nasional yang berkelanjutan dengan mewujudkan keberlanjutan sumberdaya air (Sunaryo, 2004).


BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Pengertian
1.      Air Permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah
(sungai, danau, mata air, terjunan air).
2.      Air Tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah.
3.      Air tanah dangkal/sedang/dalam adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah pada kedalaman : dangkal 1-30 meter, sedang 31-60 meter dan dalam > 60 meter.
4.    Air Tanah Bebas (unconfined) adalah air dari aquifer dimana lapisan kedap air hanya berada pada dasar akuifer dan permukaan akuifer bebas dari lapisan kedap air.
5.      Air Tanah Tertekan (confined) merupakan air dari akuifer yang sepenuhnya jenuh dengan bagian atas dan bawah dibatasi oleh lapisan kedap air.
6.      Jaringan Irigasi adalah saluran dan bangunan yang diperlukan untuk mengatur dan menyalurkan air irigasi yang mencakup penyediaan, pengambilan, penyaluran dan pembagian.
7.      Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk menunjang usaha pertanian.
8.      Bendung kecil/dam parit adalah bangunan penahan air di sungai/kali yang tingginya di bawah 15 m, untuk menaikkan tinggi muka air dan juga dapat dilengkapi saluran untuk mengalihkan air kelebihan yang dapat ditampung dalam bak penampung atau bangunan tampung air (reservoir).
9.      Sumber air adalah tempat/wadah air alami dan atau buatan yang terdapat di atas ataupun di bawah permukaan tanah.
10.  Pembuangan air irigasi, selanjutnya disebut drainase, adalah pengaliran kelebihan air yang sudah tidak dipergunakan lagi pada suatu daerah pertanian.

3.2. Sumber Air Potensial
Air permukaan dan air tanah merupakan sumber air utama yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pertanian, dan lain-lain. Namun demikian saat ini sebagian besar kebutuhan masih mengandalkan dari sumber air permukaan oleh karena itu, sumber air permukaan perlu dikelola dengan baik sehingga mampu memberikan manfaat bagi pengembangan sektor pertanian. Air Permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah (sungai, danau, mata air, terjunan air). (Direktur Pengelolaan Air)
Air permukaan baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa) dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir di laut. Proses perjalanan air di daratan tersebut terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sistem Daerah Aliran Sungai (DAS).
Sampai saat ini, air permukaan sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik dan keperluan domestik lainnya. Penggunaan air tanah umumnya masih terbatas untuk minum, rumah tangga, sebagian industri, usaha pertanian pada wilayah dan musim-musim tertentu. Sumberdaya air merupakan sumberdaya yang terbaharuinamun demikian ketersediaannyatidak selalu sesuai dengan waktu, ruang, jumlah dan mutu yang dibutuhkan. Tujuan kegiatan pengembangan air permukaan adalah :
-          memanfaatkan potensi sumber air permukaan untuk irigasi
-          meningkatkan ketersediaan air irigasi sehingga dapat menjamin pasokan air dalam usaha tani
-          meningkatkan luas areal tanam, indeks pertanaman dan produktivitas usaha tani
-          meningkatkan produksi pertanian, pendapatan dan kesejahteraan petani.
a.      Sungai
Kegiatan pemanfaatan sungai yang berlangsung selama ini sebagian besar masih dilakukan dengan cara yang kurang memperhatikan kelestarian dan kepentingan umum. Hal ini ditandai dengan kondisi-kondisi yang salah satunya ialah hilangnya sebagian besar tumbuhan penutup di daerah aliran sungai bagian hulu, sehingga memengaruhi daya resap lahan dan meningkatkan erosi (Puslit Sumber daya Air, 2002: 3). Menurut Puslit Sumber daya Air (2002: 3) sungai sebagai sumber air yang mempunyai sejumlah potensi yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. Manfaat sungai sebagai sumber air di antaranya adalah :
1) Sebagai sumber penghidupan dan kehidupan, air dibutuhkan manusia.
2) Sungai juga dapat dijadikan sarana transportasi untuk mendukung mobilitas manusia.
3) Sungai berfungsi sebagai sumber protein hewani yang hidup di dalamnya, seperti ikan.
4) Sungai berfungsi untuk mengairi pertanian (irigasi).

b.      Waduk atau Danau
Selain sungai, keberadaan waduk dan danau merupakan potensi dari sumberdaya air yang memberikan manfaat bagi kelangsungan manusia. Danau terbentuk secara alamiah oleh proses geologi, baik tektonisme maupun vulkanisme, sedangkan waduk merupakan buatan manusia dengan membuat tanggul atau bendungan sehingga air sungai naik dan menggenangi daerah sekitar yang memiliki ketinggian yang sama (Darsiharjo, 2005:109).
3.3. Peranan Air Bagi Pertanian 
Dalam kegiatan budidaya pertanian baik dalam pengembangan tanaman pangan, holtikultura, peternakan maupun perkebunan; ketersediaan air merupakan faktor yang sangat strategis. Tanpa adanya dukungan ketersediaan air yang sesuai dengan kebutuhan baik dalam dimensi jumlah, mutu, ruang maupaun waktunya, maka dapat dipastikan kegiatan budidaya tersebut akan berjalan dengan tidak optimal. Selain itu yang paling penting adalah manusia sangat membutuhkan air untuk memenuhi segala kebutuhannya. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pengembangan sumber-sumber air.
Sebagaimana diketahui, setiap daerah di Indonesia tidak seluruhnya mendapatkan curah hujan yang sama, dengan demikian akan terdapat dua daerah ada yang curah hujannya telah mampu mencukupi kebutuhan pengairan dan ada daerah dengan lahan yang memerlukan pengairan (irigasi) bagi pertaniannya. Untuk itu, diperlukan pengelolaan air agar air yang tersedia mampu digunakan seefektif dan seefisien mungkin agar mampu memenuhi kebutuhan pertanian, dll.
3.4. Keadaan Pertanian di Indonesia
Lahan kering di Indonesia, 33,3 juta Ha (BPS, 1997), dengan sebagian besar lahan tersebut beriklim kering tipe D dan E berdasarkan klasifikasi zona iklim Oldeman.Selain fakta tersebut, saat ini kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Ratusan ribu hektare tanaman pangan, terutama padi, di Pulau Jawa terancam. Luas lahan padi yang potensial gagal panen terus bertambah seiring dengan musim kemarau yang berubah pola.
Para ahli mengaitkannya dengan gejala pemanasan global yang menyebabkan musim hujan dan kemarau di Indonesia bergeser. Musim kemarau yang biasanya terjadi pada periode April sampai Oktober, tahun ini baru dimulai pada Juli. Demikian juga dengan musim hujan yang bergeser dari November sampai Maret ke Februari hingga Juni. Total luas tanaman padi yang kekeringan selama Januari-Juli 2007 mencapai 268.518 hektare. Kawasan tropis ditengarai akan menderita “pukulan produksi pangan” akibat besarnya variabilitas iklim menjelang 2030. Itu berarti kerawanan pangan akan sering terjadi. Kekhawatiran ini cukup beralasan. Karena meski bencana kekeringan sudah mengancam dan melanda sentra-sentra produksi beras di Jawa, pemerintah malah membantah terjadi bencana kekeringan nasional pada musim kemarau sekarang ini. Petani di daerah pantai utara (pantura) Jabar dan Jateng padahal sudah berteriak sawah mereka kering. Pemerintah harus menanggapi masalah ini dengan serius karena menyangkut produksi beras nasional. Pemerintah harus cepat menangani bencana alam yang sudah di depan mata.
Berdasarkan hasil analisis data historis yang disampaikan Direktur PLA Deptan, kekeringan kali ini selain merupakan kejadian musiman biasa, juga akumulasi dan interaksi tiga faktor penyebab lainnya, yaitu degradasi lingkungan dan sumber daya air, tata kelola air yang memburuk, dan dampak perubahan iklim global. Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah harus mengantisipasi dengan cepat dan tepat faktor ini.
Dari permasalahan tersebut maka dibutuhkan suatu sistem pengaturan air/pengairan (irigasi) yang mampu memenuhi kebutuhan tanaman pertanian akan air pada saat-saat air hujan tidak dapat lagi diharapkan.
3.5. Sistem Irigasi
Kemarau datang, keresahan petani lahan kering semakin meningkat. Terbatasnya persediaan air irigasi untuk usaha taninya selalu menjadi masalah. Salah satu kendala pada daerah ini adalah terbatasnya air untuk tanaman, oleh karena itu dibutuhkan sistem irigasi pada saat terjadi saat-saat kering.
Untuk mengantisipasi dampak kemarau atas ketersediaan air untuk pertanian, penerapan beberapa Teknologi Tepat Guna akan sangat membantu diantaranya adalah sistem irigasi mikro, Teknologi Embung, Sistem Irigasi Dam Parit (Channel Reservoir), dan Sistem Irigasi Kendi.
3.5.1. Sistem Irigasi Mikro
Irigasi mikro adalah salah satu terobosan yang bisa dilakukan. Teknologi ini adalah suatu istilah bagi sistem irigasi yang mengaplikasikan air hanya di sekitar zona penakaran tanaman. Irigasi mikro ini meliputi irigasi tetes (drip irrigation), microspray dan mini-sprinkler.
BBP Mekanisasi Pertanian telah melakukan pengembangan sistem irigasi mikro. Lokasi pengembangan pertama dilakukan di kebun percobaan BBP Mektan Serpong. Pengembangan sistem irigasi tetes (drip) diterapkan untuk budidaya cabai dan jagung manis. Sistem irigasi sprinkler diterapkan pada tanaman kacang tanah. Pengujian kinerja terhadap sistem irigasi tetes diperoleh bahwa tingkat keseragaman tetesan untuk tanaman cabai mencapai 82.82% (SU) dan 88.74% (DU) sedangkan untuk tanaman jagung 83.46% (SU) dan 88.21% (DU). Dengan hasil uji tersebut dapat dikatakan bahwa sistem irigasi tetes yang digunakan untuk tanaman cabai dan jagung termasuk dalam katagori BAIK. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keseragaman tersebut antara lain adalah: kondisi filter air, kondisi lubang emitter yang tersumbat oleh tanah, perubahan koefisien gesek pada pipa lateral karena tumbuhnya lumut dsb.
Sedangkan untuk sistem irigasi curah diperoleh hasil tingkat keseragamannya mencapai 89.91% (CU). Dengan demikian sistem irigasi curah yang digunakan untuk tanaman kacang tanah termasuk kategori BAIK menurut standard Christiansen. Hasil ubinan tanaman cabai rata-rata pada lahan irigasi tetes adalah 4.4 ton/ha. Menurut Kusuma Inderawati (1982), potensi hasil yang dapat dicapai oleh tanaman cabai mencapai 6.21 ton/ha bila dilakukan perlakuan yang tepat terhadap jarak tanam, pH tanah 6 dan pemberian air yang tepat waktu dan kebutuhan. Hasil biji jarak petak sampel bervariasi karena tingkat keseragaman tetesan juga bervariasi. Hasil maksimum yang mampu dicapai adalah 5.55 ton/ha pada tingkat keseragaman 91.50%. Hasil ubinan tanaman kacang tanah rata-rata adalah 2.46 ton/ha. Hasil panen ubinan diperoleh bahwa produksi tanaman kacang tanah bervariasi mulai dari yang terendah 1.68 ton/ha sampai tertinggi 3.13 ton/ha. Hasil biji pada petak sampel bervariasi karena tingkat keseragaman curahan juga bervariasi. Kenampakan fisik tanaman di lapangan mendukung tingkat keseragaman distribusi curahan lebih baik dibanding irigasi tetes.
Hasil ubinan panen jagung untuk pemberian air dengan irigasi tetes mencapai 6,6 ton/ha. Hasil yang dicapai oleh irigasi tersebut hampir sama dengan rata-rata hasil potensial jagung varietas Semar yaitu 6 – 8 ton/ha. Selisih hasil yang dicapai antara penelitian di Serpong dan hasil potensialnya diperkirakan karena total air yang diberikan dalam satu periode musim tanam untuk metode irigasi tetes adalah 336,39 mm. Untuk mencapai kondisi potensial hasil diperlukan total air minimal 420 mm/musim serta syarat agronomis yang baik. Hasil maksimum yang mampu dicapai 7.8 ton/ha. Sehingga diduga hasil panen jagung masih dapat ditingkatkan lagi dengan meningkatkan tingkat keseragaman curahan sistem irigasi yang digunakan.
Lokasi pengembangan berikutnya adalah di lahan pasang surut Kalimantan Selatan yang dilaksanakan tahun anggaran 2006. Sistem irigasi yang diterapkan adalah irigasi tetes (drip) dengan menggunakan komponen emiter yang lebih murah (bekas tutup botol aqua). Hal ini merupakan terobosan baru untuk menjawab penggunaan teknologi tepat guna.
Atas dasar beberapa terobosan baru yang telah dilakukan oleh BBP Mektan, diharapkan mampu mengurangi kesulitan petani di musim kemarau. Juga disadari bahwa terobosan penerapan irigasi mikro di lahan kering membutuhkan investasi awal yang mahal. Untuk mengurangi beban petani, peran pemerintah dan dinas terkait sangat diperlukan dalam pendampingan kelembagaan. Penguatan kelembagaan di tingkat petani harus segera dilakukan, karena dengan kelembagaan yang kuat dapat mengelola sistem irigasi mikro dengan baik. Diharapkan petani di lahan kering dapat memanfaatkan salah satu sistem irigasi dalam pertaniannya.
3.5.2. Embung
Untuk mengantisipasi dampak kemarau atas ketersediaan air untuk pertanian, penerapan beberapa Teknologi Tepat Guna akan sangat membantu diantaranya adalah: Teknologi Embung. Teknologi ini pernah digalakkan beberapa tahun lalu dan telah terbukti berhasil pada daerah Semi Arid Tropic di dunia.
Di beberapa tempat di Indonesia teknologi ini sudah diterapkan. Embung adalah kolam penampung air hujan untuk mensuplai air di musim kemarau, menurunkan volume aliran permukaan sekaligus meningkatkan cadangan air tanah, dan mengurangi kecepatan aliran permukaan hingga daya kikis dan daya angkutnya menurun.
Teknologi Embung dapat meningkatkan intensitas tanah dan hasil usaha tani. Di Yogyakarta penanaman dapat dilakukan sepanjang tahun dengan pola padi, tembakau, jagung. Nilai usaha tani pada sawah tadah hujan meningkat dari Rp 4,3 juta/ha/tahun menjadi Rp 11,7 juta/ha/tahun. Pada lahan kering, maka usaha tani meningkat dari Rp 3,5 juta menjadi Rp 8,3 juta/ha/tahun.
Selain itu, Embung juga dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan, dan air embung dapat pula dimanfaatkan untuk minum bagi ternak. Dengan penerapan teknologi ini, dalam jangka panjang diharapkan muka air tanah naik sehingga dapat dibuat sumur untuk keperluan rumah tangga. Lokasi yang sesuai untuk konstruksi umum bagi teknologi embung adalah :
1) Lapisan tanah bagian bawah kedap air
2) Kemiringan lahan kurang dari 40%
3) Tidak langsung dilalui oleh saluran pembuangan air utama.
3.5.3. Sistem Irigasi Dam Parit (Channel Reservoir)
Sistem Irigasi Dam Parit (Channel Reservoir), Sistem irigasi dam parit adalah sistem yang memanfaatkan aliran sungai dengan cara memotong aliran sungai dan mengumpulkan air dari aliran sungai tersebut untuk didistribusikan ke saluran irigasi yang ada. Dengan sistem ini, aliran permukaan dapat dikurangi sehingga dapat digunakan sebagai cara untuk penanggulangan banjir. Di samping itu, sistem ini dapat mengurangi sedimentasi dan pendangkalan sungai akibat sedimentasi karena berkurangnya laju aliran permukaan, dan meningkatkan permukaan air tanah. Sistem ini dikembangkan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Badan Litbang Pertanian.
3.5.4. Sistem Irigasi Kendi
Guna mendapatkan sistem irigasi yang hemat air untuk daerah lahan kering dan ancaman kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Indonesia setiap tahun Setiawan et al (1998) telah mengembangkan sistem irigasi kendi di Indonesia sejak tahun 1996. dengan sistem ini air irigasi diberikan langsung pada zona perakaran tanaman dan penanaman tanaman lain di sekitar zona pembasahan. Sistem Irigasi Kendi. Ini adalah salah satu bentuk pemberian air pada tanaman melalui zona per-akaran tanaman. Irigasi kendi ini dapat menghemat penggunaan air dengan cara mengatur melalui sifat porositas kendi.
Mondal (1974) dan Stein (1990) memasukkan sistem irigasi kendi ke dalam sistem irigasi bawah permukaan. Selanjutnya Stein (1990) menggolongkannya lagi ke dalam irigasi lokal (Local Irrigation), karena rembesarn air irigasi terjadi secara lambat dengan volume yang rendah (kecil) pada zona perakaran tanaman, sehingga hanya sebagian tanah yang terbasahi, maka sistem irigasi ini mampu mengurangi evaporasi dan perkolasi (Modal, 1978).
Teknologi tersebut sudah pernah diujicobakan di lapangan dengan hasil memuaskan di beberapa daerah yaitu, NTB, NTT, Lombok Timur, Sukabumi, dan Bogor. Prof. DR. Budi Indra Setiawan yang melakukan penelitian tersebut, mengatakan bahwa lahan kering kini bisa menjadi lahan produktif terutama untuk budidaya hortikultura dengan menerapkan teknologi irigasi hemat air dan pupuk yaitu dengan teknologi irigasi kendi. Dijelaskan pula, penerapan teknologi tepat guna ini mampu meningkatkan pendapatan petani di desa-desa tertinggal yang pada umumnya berlokasi di lahan-lahan kering. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air dan pupuk pada budidaya tanaman di lahan terbuka, rumah kaca ataupun tanaman sela di antara tanaman perkebunan seperti cabai, lemon, melon, tomat dan lainnya. Dengan menggunakan kendi yang dirancang khusus agar dapat mengeluarkan keringat apabila diisi dengan air, bila kendi tersebut ditanam dalam tanah, maka air dalam kendi akan merembes melalui dindingnya kemudian membasahi tanah langsung ke daerah perakaran.
Sementara itu mengenai cara penggunanaanya, volume air dalam kendi dijaga agar selalu terisi air dengan menerapkan teknologi pemberian air bertekanan tetap yang dirancang khusus terbuat dari tangki air. Dengan demikian, pemberian air dan pupuk cair dapat dilakukan secara terpusat dan terkendali sehingga meringankan petani dalam mengairi tanamannya.
Secara operasional, kendi ditanam di bawah tanah dekat dengan zona perakaran tanaman. Jumlah kendi yang ditanam tergantung pada jenis tanaman, kebutuhan air tanaman, suplai air serta porositas tanah dan kendi.
Mekanisme pengisian air ke dalam kendi adalah dengan memasukkan air yang berasal dari air hujan atau sumber air lainnya melalui selang air. Pada waktu musim kering dimana ketersediaan air di dalam tanah berkurang, maka air dalam kendi akan mengalir ke luar melalui pori-pori kendi sesuai dengan prinsip hukum keseimbangan tekanan air di dalam tanah.






BAB IV
KESIMPULAN
Air permukaan dan air tanah merupakan sumber air utama yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pertanian, dan lain-lain. Namun demikian saat ini sebagian besar kebutuhan masih mengandalkan dari sumber air permukaan oleh karena itu, sumber air permukaan perlu dikelola dengan baik sehingga mampu memberikan manfaat bagi pengembangan sektor pertanian. Air Permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah (sungai, danau, mata air, terjunan air).
Air adalah semua air yang terdapat di atas maupun di bawah permukaan tanah. Air dalam pengertian ini termasuk air permukaan, air tanah, air hujan dan air laut yang dimanfaatkan di darat. Sedangkan pengertian sumberdaya air adalah air dan semua potensi yang terdapat pada air, sumber air, termasuk sarana dan prasarana pengairan yang dapat dimanfaatkan, namun tidak termasuk kekayaan hewani yang ada di dalamnya.
Air demikian penting bagi kehidupan manusia, berbagai sektor dan kepentingan lainnya. Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah air pengairan, yang sering bahkan menimbulkan berbagai masalah bagi berbagai kehidupan, jika tidak mampu melestarikannya. Kemarau datang, keresahan petani lahan kering semakin meningkat. Terbatasnya persediaan air irigasi untuk usaha taninya selalu menjadi masalah. Salah satu kendala pada daerah ini adalah terbatasnya air untuk tanaman, oleh karena itu dibutuhkan sistem irigasi pada saat terjadi saat-saat kering.
Untuk mengantisipasi dampak kemarau atas ketersediaan air untuk pertanian, penerapan beberapa Teknologi Tepat Guna akan sangat membantu diantaranya adalah sistem irigasi mikro, Teknologi Embung, Sistem Irigasi Dam Parit (Channel Reservoir), dan Sistem Irigasi Kendi.



DAFTAR PUSTAKA

Edward, Saleh dan Budi Indra Setiawan. 2001. Distribusi dan Profil Kelembaban Tanah pada sistem Irigasi Kensi pada tanaman sayuran di Daerah Kering. Jurnal ilmu-ilmu pertanian Indonesia vol.3 no.2. 2001. Hal. 94-98. PRIDA Indonesia. 2006.  Atasi Kekeringan Dengan Sistem Irigasi Kendi. http://www.pidra-indonesia.org/index2.php? [diakses pada tanggal 21 Mei2014].
Salman, Darajat. 2003. Artikel pada halaman utama Sinar Harapan : Embung, Irigasi Kendi, dan Dam Parit. Badan Ketahanan Pangan, Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan Aceh Timur. http://www.sinarharapan.co.id/index.html  [diakses pada tanggal 21 Mei 2014].
Sunaryo, D.Suharjito dan M Sirait. 2004. Model Pengelolaan Kawasan Permukiman Berkelanjutan Di. Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung Hulu Kabupaten Bogor World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia Regional Office.
Wiyono, Joko. 2006. Musim Kemarau Datang, Sistem Irigasi Mikro di Lahan Kering Jadi Pilihan. Tabloid Sinar Tani, Penulis dari BBP Mektan: Serpong.

Laporan PENGARUH HAMA KUMBANG BIJI (Callosobruchus chinensis) TERHADAP KACANG-KACANGAN

Laporan Praktikum SPHP


PENGARUH HAMA KUMBANG BIJI (Callosobruchus chinensis) TERHADAP KACANG-KACANGAN



Nama Anggota
1.    Nurdin
2.    Irham Maulana
3.    Sultani
4.    Seri Yanti
5.    Agustinus F Jawak







FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2014
I. PENDAHULUAN


1. Latar Belakang
Hama merupakan semua binatang yang aktifitasnya menimbulkan kerusakan pada tanaman dan menimbulkan kerugian secara ekonomis. Salah satu jenis hama yangmenyerang tanaman adalah hama jenis serangga (Insekta). Jenis hama serangga tidak hanya dijumpai di ladang ataupun di sawah, akan tetapi hama serangga dapat pula di jumpai pada bahan-bahan simpanan di gudang (Nyoman I, 2005).
Hama gudang hidup dalam ruang lingkup yang terbatas, yakni hidup dalam bahan-bahan simpanan di gudang. Umumnya hama gudang yang sering dijumpai adalah dari ordo Coleoptera (bangsa kumbang), seperti Tribolium sp. , Sitophilus oryzae, Callocobruchus chinensis, Sitophilus zaemays, Necrobia rufipes dan lain-lain.
Coleoptera berasal dari bahasa Latin coleos = perisai, pteron = sayap, yang berarti insekta bersayap perisai. Memiliki dua pasang sayap, yaitu sayap depan dan sayap belakang. Sayap depan keras, tebal dan memiliki permukaan luar yang halus yang mengandung zat tanduk sehingga dinamakan elytra, sedangkan sayap belakang lebih tipis seperti selaput dan lebih panjang dari pada sayap depan, Mengalami metamorfosis sempurna dan Tipe mulut menggigit (Wikipedia, 2008).
2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh hama Brochus terhadap kacang-kacangan.
morfologi serta gejala serangan yang ditimbulkannya.







II. TINJAUAN PUSTAKA



1. Kumbang Biji (Callosobruchus chinensis)
a. Ciri Morfologi
Salah satu serangga hama yang sangat potensial merusak biji kacang hijau di gudang adalah Callosobruchus chinensis. Serangga hama ini disebut kumbang biji.Kumbang Biji (Callosobruchus chinensis) mempunyai moncong yang pendek dan femur tungkai belakang yang membesar. Bentuk tubuh kumbang dewasa kebanyakan bulat atau lonjong. bentuk tubuhnya bulat telur dengan bagian kepalanya yang agak runcing. Pada sayap depannya terdapat gambaran gelap yang menyerupai huruf U dan pronotumnya halus. Warna sayap depannya coklat kekuning-kuningan (Rioardi,2009)
Pada kumbang jantan mempunyai ukuran tubuh 2,4 mm - 3 mm sedangkan kumbang betina mempunyai ukuran tubuh 2,76 mm – 3,49 mm. Imago betina dapat menghasilkan telur sampai 700 butir. Telur berbentuk lonjong agak transparan atau kekuning-kuningan atau berwarna kelabu keputih-putihan. Panjang telur 0,57 mm, berbentuk cembung pada bagian dorsal, dan rata pada bagian yang melekat pada biji. Telur diletakkan pada permukaan biji dan direkatkan dengan semacam perekat. (Wikipedia, 2008).
b. Sistematika
Kingdom Animalia, Filum Arthropoda, Kelas Insecta, Ordo Coleoptera, FamilyBruchidae, Genus Callosobruchus, Spesies Callosobruchus chinensis (Wikipedia, 2008)
c. Gejala serangan
Setelah imago betina bertelur, maka telur diletakkan pada permukaan produk kekacangan dalam simpanan dan akan menetas setelah 3-5 hari. Larva biasanya tidak keluar dari telur, tetapi hanya merobek bagian kulit telur yang melekat pada material. Larva akan menggerek di sekitar tempat telur diletakkan. Lama stadia larva adalah 10-13 hari. Produk yang diserang akan tampak berlubang, karena larva terus menggerek biji dan berada di dalam biji sampai menjadi imago. Setelah menjadi imago, maka lubang pada biji menjadi tempat keluar imago dari dalam biji (Wikipedia, 2008).
d. Pengendalian
Serangga hama Callosobruchus chinensis, dapat dikendalikan dengan caramelakukan fumigasi dan menggunakan musuh alami hama ini (Anisopteromalus calandrae dan semut hitam). Musuh alaminya yang tidak lain berupa parasit parasitoid larva yaitu Anisopteromalus calandrae (Howard) dan Dinarmus basalis (Rondani) (Pteromalidae: Hymenoptera) yang biasanya juga menyerang Sitophilus sp. atau serangga lain yang tergolong bangsa kumbang. Jenis parasit tersebut biasanya menyerang kepompong. Semut juga dapat menyerang kumbang Callosobruchus chinensis dewasa, terutama yang abnormal atau yang hampir mati. Perangkap lampu atau lem dapat menangkap imago. Pengendalian di gudang dapat dilakukan dengan fumigasi (Wordpress, 2008).


















III. METEOLOGI PRAKTIKUM
1.    Tempat dan Waktu
SPHP praktiku mengenai pengaruh hama kumbang biji dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian,Universitas Syiah Kuala, Darussalam-Banda Aceh. pada hari Rabu, tanggal 12 Maret 2014, pukul 16.00 sampai selesai.
2. Alat dan Bahan
a. Alat
·         Toples
·         Kain kasa
·         Karet gelang
·         Alat tulis menulis
·         Gunting
·         Timbangan Digital
b.Bahan
·         Kumbang biji (Callosobruchus chinensis)
·         Kacang Tanah
·         Kacang Merah
·         Kacang Hijau
·         Kacang Kuning
3. Cara Kerja
1)      Sebelum melakukan pengamatan, mula-mula menimbang bahan-bahan sebanyak 100 gr yaitu: kacang tanah, kacang kuning, kacang merah, kacang merah.
2)      Kemudian memasukkan hama Kumbnag Biji (Callosobruchus chinensis) sebanyak 10 ekor kedalam toples yang telah disediakan
3)      Lalu menutup toples dengan kain atau jelbab yang telah dipotong-potong dan diikat dengan menggunakan karet gelang
4)      Selanjutnya mengamati penyusutan pengamatan pertama dilakukan setelah 3 Minngu praktikum.
5)      Setelah dilakkukan tiap Minggunya
6)      Setelah pengamatan, baru kemudian menuliskan ciri-ciri setiap specimen serangga hama.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
4.1.1 Hasil pengamatan Susut Pada Bahan Simpanan
Tabel 1. Pengamatan kehilangan berat bahan pada kacang hijau (Vigna radiata)
No.      Hari/Tgl           Berat Awal      Berat Akhir     Susut
1.         Senin,19-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
2.         Kamis,22-10-2009      100 gr  100 gr  0 %
3.         Senin,26-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
4.         Rabu,28-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
Grafik 1. Pengamatan kehilangan berat bahan pada kacang hijau (Vigna radiata)
Tabel 2. Pengamatan kehilangan berat bahan pada kopra (Cocos nucifera)
No.      Hari/Tgl           Berat Awal      Berat Akhir     Susut
1.         Senin,19-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
2.         Kamis,22-10-2009      100 gr  100 gr  0 %
3.         Senin,26-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
4.         Rabu,28-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
Grafik 2. Pengamatan kehilangan berat bahan pada kopra (Cocos nucifera)
Tabel 3. Pengamatan kehilangan berat bahan pada beras (Oryzae)
No.      Hari/Tgl           Berat Awal      Berat Akhir     Susut
1.         Senin,19-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
2.         Kamis,22-10-2009      100 gr  100 gr  0 %
3.         Senin,26-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
4.         Rabu,28-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
Grafik 3. Pengamatan kehilangan berat bahan pada beras (Oryzae)
Tabel 4. Pengamatan kehilangan berat bahan pada Jagung (Zea mays)
No.      Hari/Tgl           Berat Awal      Berat Akhir     Susut
1.         Senin,19-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
2.         Kamis,22-10-2009      100 gr  100 gr  0 %
3.         Senin,26-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
4.         Rabu,28-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
Grafik 4. Pengamatan kehilangan berat bahan pada jagung (Zea mays)
Tabel 5. Pengamatan kehilangan berat bahan pada tepung
No.      Hari/Tgl           Berat Awal      Berat Akhir     Susut
1.         Senin,19-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
2.         Kamis,22-10-2009      100 gr  100 gr  0 %
3.         Senin,26-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
4.         Rabu,28-10-2009        100 gr  100 gr  0 %
Grafik 5. Pengamatan kehilangan berat bahan pada tepung
4.1.2 Morfologi Hama Gudang
Gambar 35. Morfologi Kumbang Biji (Callosobruchus chinensis) pada Kacang
Hijau (Vigna radiata)
Gambar 36. Gejala Serangan Kumbang Biji (Callosobruchus chinensis) pada KacangHijau (Vigna radiata)
Gambar 37. Morfologi Kumbang Kopra (Necrobia rufipes) pada Kopra (Cocos nucifera)
Gambar 38. Gejala serangan Kumbang Kopra (Necrobia rufipes) pada
Kopra (Cocos nucifera)
Gambar 39. Morfologi Kumbang beras (Sitophilus oryzae) pada Beras (Oryzae)
Gambar 40. Gejala serangan Kumbang Beras (Sitophilus oryzae) pada
Beras (Oryzae)
Gambar 41. Morfologi Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays) pada
Jagung (Zea mays)
Gambar 42. Gejala serangan Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays) pada
Jagung (Zea mays)
Gambar 43. Morfologi Kumbang Tepung (Tribolium sp.) pada Tepung
Gambar 44. Gejala Serangan Kumbang Tepung (Tribolium sp.) pada Tepung
4.2 Pembahasan
Presentase kerusakan biji pada kacang hijau akibat serangan Callosobruchus chinensis pada tabel dan grafik berdasarkan hasil pengamatan di laboratorium, menunjukkan tidak adanya penyusutan yang terjadi pada bahan simpanan. tidak terjadinya penyusutan pada bahan dikarenakan oleh beberapa faktor. Yang pertama, kumbang tidak berkembang biak sebab kumbang jantan dan kumbang betina tidak disesuaikan jumlahnya. Yang kedua, karena usia kumbang telah mendekati batas siklus hidupnya yang hanya berkisar ± 35-42 hari. Yang ketiga, kemungkinan bahan memiliki kadar air yang rendah sehingga serangga sulit untuk bertahan hidup dan akhirnya mati.
Menurut Sudarmo (2004), Faktor yang menentukan besarnya kerusakan biji akibatCallosobruchus chinensis adalah tingginya populasi yang ditentukan oleh sifat biologi yang meliputi jenis kelamin dan daur hidup.
Berdasarkan hasil pengamatan di laboratorium, Presentase kerusakan kopra akibat kumbang Necrobia rufipes yang terlihat pada tabel dan grafik menunjukkan tidak adanya penyusutan yang terjadi pada bahan simpanan. Sebagaimana kacang hijau, tidak terjadinya penyusutan pada kopra disebabkan karena faktor yang sama, yakni tidak dapat berkembang biak sebab jumlah kumbang jantan dan betina yang di abaikan, usia kumbang yang mendekati batas siklus hidup, terbangnya kumbang pada saat pengukuran berat bahan simpanan, dan tingkat kelembaban yang rendah hingga menyebabkan kematian pada kumbang. Selain dari faktor itu, jenis timbangan yang digunakan juga dapat mempengaruhi ketepatan dari penyusutan bahan simpanan. Menurut Pracaya (2004), bahwa perkembangan optimum kumbang kopra terjadi pada temperature 30o C dan kelembaban relatif 70%.
Presentase kerusakan beras akibat dari kumbang Sitophilus oryzae pada tabel dan grafik berdasarkan hasil pengamatan di laboratorium menunjukkan tidak adanya penyusutan yang terjadi pada bahan simpanan.
Menurut Triharso (2004), Siklus hidup hama ini sekitar 28-90 hari, tetapi umumnya selama ± 31 hari. Panjang pendeknya siklus hidup hama ini tergantung pada temperatur ruang simpan, kelembapan di ruang simpan, dan jenis dan mutu produk yang diserang.Menurut literatur diatas, maka dapat dikatakan bahwa tidak terjadinya penyusutan kemungkinan diakibatkan oleh kelembaban yang rendah, mutu bahan simpanan yang tinggi yang menyebabkan kematian pada kumbang, dan usia kumbang yang mendekati batas siklus hidup serta jenis timbangan dengan ketepatan pengukuran yang baik.
Berdasarkan hasil pengamatan di laboratorium, Presentase kerusakan jagung akibat kumbang Sitophilus zeamays yang terlihat pada tabel dan grafik menunjukkan hasil yang sama seperti kacang hijau, kopra dan beras, yakni tidak adanya penyusutan yang terjadi pada bahan simpanan.
Menurut Tjahjadi (2002), Semakin bertambah waktu penyimpanan, semakin besar pula tingkat kerusakan biji bahan simpanan, karena kondisi biji mengalami perubahan-perubahan suhu dan kelembaban yang memungkinkan hama gudang melakukan pengrusakan yang berpengaruh terhadap bobot bahan. Jadi seperti halnya kacang hijau, kopra, beras dan jagung, faktor kelembaban yang rendah yang dapat menyebabkan kematian kumbang, mutu bahan yang tinggi, tidak berkembangbiaknya kumbang akibat tidak seimbangnya jumlah kumbang yang bisa jadi dalam satu wadah tidak memiliki kumbang jantan atau sebaliknya ataupun minimya jumlah salah satu kumbang jantan/betina, dan usia kumbang yang mendekati batas siklus hidupnya serta ketepatan pungukuran berdasarkan jenis timbangan yang dipakai.
Presentase kerusakan tepung akibat dari kumbang Tribolium sp. pada tabel dan grafik berdasarkan hasil pengamatan di laboratorium menunjukkan tidak adanya penyusutan yang terjadi pada bahan simpanan. faktor yang mempengaruhinya adalah sama dengan faktor-faktor yang menyebabkan tidak terjadinya penyusutan pada pengamatan-pengamatan sebelumnya, yakni pada kacang hijau, kopra, beras danjagung. yaitu karena usia kumbang yang mendekati batas siklus hidupnya, ketepatan pungukuran berdasarkan jenis timbangan yang dipakai, minimya jumlah salah satu kumbang jantan/betina sehingga berpengaruh pada proses kumbang dalam berkembang biak dan kelembaban yang rendah yang dapat menyebabkan kematian kumbang serta mutu bahan yang tinggi
Pada pengamatan selanjutnya, yakni pengamatan morfologi hama gudang.Diantaranya Kumbang biji (Callosobruchus chinensis) , Kumbang kopra (Necrobia rufipes) , kumbang beras (Sitophilus oryzae), kumbang jagung (Sitophilus zeamays)dan kumbang tepung (Tribolium sp) memiliki ciri morfologi yang tidak jauh berbeda, Semuanya memiliki ciri morfologi yang sama karena semuanya tergolong dalam ordo coleoptera.
Menurut Matnawy (2001), Ciri khas dari ordo coleoptera adalah sayap depan keras menanduk, sayap belakang transparan dan melipat bawah sayap depan pada saat tidak terbang, alat mulut menggigit-mengunyah, beberapa spesies memiliki moncong, bentuk tubuh dan antena bervariasi.
Menurut hasil pengamatan morfologi pada tabel, Kumbang Callosobruchus chinensis memiliki bagian-bagian morfologi antara lain mempunyai Caput, antenna, alat mulut, mata majemuk, thorax, tungkai depan, tungkai tengah, tungkai belakang, abdomen dan sayap.
Kumbang Callosobruchus chinensis mempunyai moncong yang pendek dan femur tungkai belakang yang membesar. Bentuk tubuh kumbang dewasa kebanyakan bulat atau lonjong. bentuk tubuhnya bulat telur dengan bagian kepalanya yang agak runcing. Pada sayap depannya terdapat gambaran gelap yang menyerupai huruf U dan pronotumnya halus. Warna sayap depannya coklat kekuning-kuningan (Wikipedia, 2008).
Menurut hasil pengamatan morfologi pada tabel, Kumbang kopra (Necrobia refipes) memiliki bagian-bagian morfologi antara lain mempunyai Caput, antenna, alat mulut, mata majemuk, thorax, tungkai depan, tungkai tengah, tungkai belakang, abdomen dan sayap.
Kumbang kopra (Necrobia rufipes) dengan Famili Cleridae memiliki ciri-ciri bentuk tubuh memanjang, berwarna cemerlang, pronotumnya lebih sempit dari kepala, memiliki antenna clubbed atau kadang serrate atau pectinate (Triharso, 2004).
Menurut hasil pengamatan morfologi pada tabel, Kumbang beras (Sitophilus oryzae) memiliki bagian-bagian morfologi antara lain mempunyai Caput, antenna, alat mulut, mata majemuk, thorax, tungkai depan, tungkai tengah, tungkai belakang, abdomen dan sayap.
Kumbang beras (Sitophilus oryzae) dewasa berwarna coklat tua, dengan bentuk tubuh yang langsing dan agak pipih. Pada bagian pronotumnya terdapat enam pasang gerigi yang menyerupai gigi gergaji. Bentuk kepala menyerupai segitiga. Pada sayap depannya terdapat garis-garis membujur yang jelas. Terdapat 4 bercak berwarna kuning agak kemerahan pada sayap bagian depan, 2 bercak pada sayap sebelah kiri, dan 2 bercak pada sayap sebelah kanan (Wordpress, 2008).
Menurut hasil pengamatan morfologi pada tabel, Kumbang jagung (Sitophilus zeamays) memiliki bagian-bagian morfologi antara lain mempunyai Caput, antenna, alat mulut, mata majemuk, thorax, tungkai depan, tungkai tengah, tungkai belakang, abdomen dan sayap.
Kumbang Jagung (Sitophilus zeamays) dewasa berwarna coklat kemerahan pudar hingga mendekati hitam, dan biasanya memiliki bercak di bagian belakang dengan empat bintik kemerah-merahan terang atau kekuning-kuningan. Panjangnya 2,5 – 4,5 mm, moncongnya sempit dan panjang. Mempunyai antenna yang menyiku (siku-siku).Larvanya putih gemuk dan tidak berkaki. Kadang larvanya berkembang dalam satu butir jagung (Sudarmo, 2004).
Menurut hasil pengamatan morfologi pada tabel, Kumbang tepung (Tribolium sp.) memiliki bagian-bagian morfologi antara lain mempunyai Caput, antenna, alat mulut, mata majemuk, thorax, tungkai depan, tungkai tengah, tungkai belakang, abdomen dan sayap.
Kumbang tepung (Tribolium sp) dewasa berbentuk pipih, oval, berwarna cokelat kemerahan, panjang tubuhnya ± 4 mm. Telur berwarna putih agak merah dengan panjang ± 1,5 mm. larva berwarna cokelat muda dengan panjang ± 5-6 mm (Wikipedia, 2008).
Jika tahap pencegahan serangan hama gudang sudah dilakukan tapi masih saja ada serangan maka jalan terakhir adalah mengendalikan hama gudang tersebut dengan cara Menjaga kebersihan gudang, Menjaga suhu dan kelembaban gudang dengan kisaran 25-37.5˚C dan Menurunkan tingkat kadar air bahan . Untuk pengendalian hama gudang secara alami, kita bisa menggunakan tanaman-tanaman yang berfungsi sebagai pestisida nabati, seperti daun dan biji srikaya atau juga biji saga. Memang diakui bahwa daya bunuh pestisida nabati ini tidak sehebat pestisida kimia tapi jika kita peduli terhadap keamanan dan kesehatan bahan pangan maka pestisida nabati ini bisa menjadi alternatif. Memang perlu ada penelitian lebih lanjut untuk skala produksi karena selama ini penelitian-penelitian tentang efektivitas pestisida nabati dalam mengendalikan hama gudang masih skala laboratorium. Seluruh cara pencegahan dan pengendalian diatas tidak akan efektif jika dikerjakan secara parsial. Oleh karena itu sebaiknya semua cara diatas dikombinasikan untuk memperoleh hasil yang optimal (Sudarmo 2004).
.









V. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
a)      Hama gudang hidup dalam ruang lingkup yang terbatas, yakni hidup dalam bahan-bahan simpanan di gudang.
b)      Umumnya hama gudang yang sering dijumpai adalah dari ordo Coleoptera (berasal dari bahasa Latin coleos = perisai, pteron = sayap, yang berarti insekta bersayapperisai ), seperti Tribolium sp, Sitophilus oryzae, Callocobruchus chinensis, Sitophilus zaemays, Necrobia rufipes dan lain-lain.
5.2 Saran
Agar dalam pelaksanaan praktikum, Kerjasama antara para praktikan dan asisten dapat lebih ditingkatkan lagi, agar kegiatan praktikum berlangsung dengan lebih efisien, dan modul praktikumnyanya seharusnya ada.











DAFTAR PUSTAKA


Matnawy H, 2001.Perlindungan Tanaman. Kanisius, Yogyakarta.
Nyoman I, 2005. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia.Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Pracaya, 2004. Hama dan Penyakin Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rioardi, 2009. Ordo-Ordo Serangga. http :// rioardi. wordpress. com. Di akses pada tanggal 29 Oktober 2009.
Sudarmo. 2004, Pengendalian Serangga Hama. Kanisius, Yogyakarta.
Triharso. 2004. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Tjahjadi N, 2002. Hama dan Penyakit Tanaman. Kanusius, Yogyakarta.
Uns.ac.id. Dasar Perlindungan Tanaman.2008.
http://fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-2.htm. Di akses pada tanggal 30 Oktober 2009.
Wikipedia. 2008. Curculionidae. http://id.wikipedia.org/wiki/Curculionidae. Di akses tanggal 29 Oktober 2009.
 2008. Coleoptera. http://id.wikipedia.org/wiki/Coleoptera. Di akses pada tanggal 29 Oktober 2009.
2008. Serangga. Http://id.wikipedia.org/wiki/Serangga. Di akses pada tanggal 30 Oktober 2009
2008. Kumbang. http://id.wikipedia.org/wiki/kumbang. Di akses pada tanggal 30 Oktober 2009.
Wordpress, 2008. Hama tumbuhan. http://naynienay.wordpress.com/hama-tumbuhan. Diakses pada tanggal 29 oktober 2009
2008.Hama gudang.http://naynienay.wordpress.com/2008/01/30/hamagudang.
Diakses pada tanggal 29 oktober 2009



HORE!!! Jika Jokowi Berkuasa, Perda Syariat Diberangus! Perda Injil Didukung


kota injil
Ketua tim hukum pemenangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK), Trimedya Panjaitan, mengatakan pemerintahan Jokowi-JK tidak akan membiarkan munculnya peraturan daerah (perda) baru yang berlandaskan syariat Islam.
"Yang jelas kami tidak mendukung perda yang bersifat syariat," kata Trimedya kepada wartawan di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (4/6).
Trimedya menyatakan perda syariat Islam tidak sejalan dengan ideologi yang dianut PDI Perjuangan. Selain itu, syariat Islam juga bertentangan dengan UUD 1945. "Ideologi PDIP Pancasila 1 Juni 1945. Pancasila sebagai sumber hukum sudah final," ujar Ketua DPP
Bidang Hukum PDIP ini.
Perda syariat Islam dinilai bakal menciptakan pengkotak-kotakan tatanan sosial di masyarakat. Ujung-ujungnya, Perda syariat Islam dianggap bakal menganggu kemajemukan NKRI yang berlandaskan Bhineka Tunggal Ika. "Ke depan kami berharap perda syariat Islam tidak ada. Ini bisa mengganggu kemajemukan karena menciptakan pengotak-ngotakan masyarakat," kata anggota Komisi III DPR ini.
Selama ini, kata Trimedya, PDIP gencar menyosialisasikan program empat pilar kebangsaan yang digagas mantan ketua MPR, almarhum Taufik Kiemas. Isi dari program empat pilar kebangsaan itu sendiri adalah: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. "Bagi PDIP Pancasila sudah final," ujarnya.
Source : http://www.suaranews.com/2014/06/hore-jika-jokowi-berkuasa-perda-syariat.html?